Heri Purwadyo Penulis | Ipnu Subroto Editor
HARIANEXPRESS, JAKARTA – Pasar Pondok Labu di Jakarta Selatan mulai sepi pembeli sehingga banyak kios tutup dan pedagang terancam terlilit utang, Selasa (22/9/2026).
Kawasan tiga lantai tersebut menampilkan banyak rolling door terkunci rapat di area basement. Pengunjung yang mendatangi lokasi terpantau sangat jarang.
Suasana lengang juga terlihat di lantai dasar hingga area paling atas yang menjual produk makanan serta buah segar. Banyak lapak di sekelilingnya sudah gulung tikar meskipun beberapa pedagang masih bertahan.
Kondisi sepi tersebut membuat omzet salah seorang pedagang produk kecantikan bernama Farid mengalami penurunan drastis. Ia menyebutkan bahwa pasar sempat mengalami masa kejayaan pada awal tahun 2000an hingga menjelang 2019.
“Kondisi pasar ya sudah lumayan parah. Parahnya dari sebelum pandemi sudah terasa. Malah kalau dari waktu pandemi, kita kan disuruh tutup ya, jadi kita kucing-kucingan buka toko, itu masih dapat malah,” ujar Farid.
“Sekarang sudah terbuka kayak gini, malah nggak ada yang datang sama sekali. Lihat saja ini dari tadi nggak ada yang lewat, paling cuma pedagang-pedagang lain yang lewat untuk ke belakang,” jelas Farid.
Penurunan omzet tersebut mencapai angka sekitar 80% dibandingkan masa kejayaannya dulu. Pendapatan harian yang mulanya bisa melampaui Rp 5 juta kini merosot hingga susah mencari Rp 1 juta.
“Saya kalau mau ngomong dulu kalau bilang persenan ya ada lah 80% hilang.Dulu saya sehari Rp 5 juta ke atas. Sekarang nyari Rp 1 juta itu susah,” ujar Farid.
Untuk menyambung hidup dan menjaga perputaran modal usaha, ia terpaksa mengandalkan sisa tabungan serta fasilitas pinjaman bank. Langkah tersebut diambil agar usahanya tetap berjalan di tengah situasi pasar yang lesu.
“Ke pangkas tabungan, ya pasti sudah kemakan. Saya justru bisa bertahan karena masih ada itu. Tapi ya saya juga ada ambil KUR buat putaran modal dagang di sini,” tutur Farid.
“Jadi sekarang gimana kita imbangin pakai tabungan sama KUR buat perputaran modal sama bertahan hidup. Kalau nanti memang di sisi sudah nggak kuat, ya mau nggak mau selesaikan KUR-nya dulu baru tutup. Soalnya itu jatuhnya utang kan,” papar Farid.








