Monday, 26 October 2026
Hot

Mahasiswa Epidemiologi UIN Jakarta Pelajari Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan di BBKK Tanjung Priok

Sebanyak 26 mahasiswa mengikuti empat sesi pembelajaran dan memperoleh kesempatan mengamati inspeksi kapal untuk memahami penerapan kewaspadaan dini

Article ad before first paragraph

Ridwan Habibie Editor

HARIANEXPRESS, JAKARTA – Sebanyak 26 mahasiswa Peminatan Epidemiologi Angkatan 2024, Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mengunjungi Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (23/10/2026).

Dalam kunjungan yang berlangsung pukul 08.00–12.00 WIB tersebut, mahasiswa didampingi dua dosen dan mengikuti rangkaian pembelajaran mengenai surveilans epidemiologi, sistem kewaspadaan dini, serta penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan di pelabuhan.

Rombongan dipimpin oleh Dr. Minsarnawati, SKM, M.Kes., selaku dosen penanggung jawab mata kuliah Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB). Kegiatan dipusatkan di Ruang Rapat Onrus, Lantai 4, BBKK Tanjung Priok.

Article ad in the middle of article

Kunjungan lapangan ini merupakan bagian dari pembelajaran mata kuliah Sistem Kewaspadaan Dini KLB/Wabah. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memahami penerapan konsep epidemiologi dalam mendeteksi potensi ancaman kesehatan, menilai faktor risiko, serta mendukung upaya pencegahan dan pengendalian penyakit di pintu masuk negara.

Empat Materi Utama tentang Kewaspadaan dan Pengendalian Risiko Kesehatan

Rangkaian kegiatan meliputi pembukaan, sambutan, pengenalan institusi, empat sesi materi inti, serta diskusi kasus terpadu dan tanya jawab. Setiap sesi memberikan pemahaman mengenai aspek yang saling berkaitan dalam perlindungan kesehatan masyarakat di lingkungan pelabuhan.

kesehatan3

 

Mengenal Peran BBKK Tanjung Priok

Dalam sesi pengenalan institusi yang disampaikan Fifi Nur A., SKM, M.Epid., mahasiswa memperoleh penjelasan mengenai peran BBKK dalam mencegah masuk dan keluarnya penyakit melalui pelabuhan serta mengendalikan faktor risiko kesehatan.

Pelaksanaan tugas tersebut mencakup pengawasan terhadap orang, alat angkut, barang, dan lingkungan berdasarkan penilaian risiko kesehatan. Pemahaman ini memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai pentingnya pengawasan di pintu masuk negara sebagai bagian dari upaya melindungi kesehatan masyarakat.

Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons

Materi pertama disampaikan oleh Teti Herawati, SKM, dengan fokus pada Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Pembahasan menekankan pentingnya mendeteksi sinyal ancaman kesehatan sedini mungkin dan memastikan adanya tindak lanjut yang sesuai.

Mahasiswa mempelajari dua pendekatan surveilans, yaitu surveilans berbasis indikator (indicator-based surveillance/IBS) dan surveilans berbasis kejadian (event-based surveillance/EBS). Kedua pendekatan tersebut mendukung proses identifikasi dan verifikasi sinyal, penilaian risiko, pelaporan, serta kesiapsiagaan Tim Gerak Cepat (TGC) dalam merespons potensi kejadian luar biasa.

Penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan

Materi kedua disampaikan oleh Fredrik Lona D., SKM. Sesi ini membahas pelaksanaan kekarantinaan kesehatan di pintu masuk negara, khususnya dalam pengawasan kedatangan kapal dan identifikasi potensi risiko kesehatan.

Mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai pemeriksaan dokumen kesehatan alat angkut, pengawasan kondisi kesehatan awak kapal dan penumpang, serta pemeriksaan faktor risiko lingkungan. Hasil pemeriksaan dan penilaian risiko menjadi dasar untuk menentukan tindakan lanjutan yang diperlukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Surveilans Epidemiologi di Pintu Masuk Negara

Materi ketiga disampaikan oleh Siti Nurani, SKM. Pembahasan berfokus pada proses pengumpulan, pengolahan, analisis, dan pemanfaatan informasi kesehatan untuk mendeteksi potensi ancaman penyakit di lingkungan pelabuhan.

Sumber informasi yang dibahas meliputi Maritime Declaration of Health (MDH), laporan kondisi kesehatan awak kapal, pemeriksaan saat kedatangan, serta pengamatan terhadap faktor risiko sanitasi. Informasi tersebut dapat dianalisis berdasarkan orang, tempat, dan waktu untuk membantu mengidentifikasi pola kejadian, mendukung deteksi dini, dan menjadi dasar pengambilan keputusan kesehatan masyarakat.

Investigasi KLB dan Respons Kesehatan

Materi keempat disampaikan oleh Rustama, SKM, dengan pembahasan mengenai prinsip investigasi epidemiologi ketika ditemukan dugaan kejadian penyakit menular di kapal.

Mahasiswa mempelajari tahapan investigasi yang meliputi penetapan dan klasifikasi kasus, penelusuran riwayat gejala dan perjalanan, identifikasi kontak, serta analisis kemungkinan penularan. Pembahasan juga mencakup koordinasi respons dengan petugas kekarantinaan kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan penanganan.

Keempat materi tersebut menegaskan pentingnya keterpaduan antara surveilans, penilaian risiko, investigasi epidemiologi, koordinasi lintas pihak, dan tindakan respons. Diskusi kasus terpadu serta sesi tanya jawab pada akhir rangkaian pembelajaran menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menghubungkan konsep yang dipelajari dengan penerapannya di lapangan.

kesehatan1

Mengamati Langsung Proses Inspeksi Kapal

Selain mengikuti pembelajaran di ruang rapat, perwakilan mahasiswa juga memperoleh kesempatan untuk mengamati proses inspeksi kapal bersama petugas kekarantinaan kesehatan pelabuhan. Salah satunya adalah Nadia Putri Chairani, mahasiswa peserta kunjungan, yang mengikuti pengamatan pemeriksaan kapal MV San Pedro.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mengamati pemeriksaan kebersihan dan sanitasi pada sejumlah area kapal, antara lain dapur (pantry), tempat penyimpanan bahan pangan kering (dry store), ruang penyimpanan berpendingin (cold storage), serta ruang pelayanan kesehatan kapal (hospital room).

Pengamatan mencakup kondisi fasilitas, kebersihan area penyimpanan makanan, kelayakan bahan pangan, dan ketersediaan sarana pelayanan kesehatan. Pemeriksaan suhu tubuh secara acak juga menjadi bagian dari pengamatan terhadap kondisi kesehatan di kapal.

Mahasiswa juga memperoleh penjelasan mengenai koordinasi kedatangan kapal dengan otoritas terkait, pemeriksaan kesehatan kapal, serta pengambilan keputusan berdasarkan kondisi kesehatan awak kapal dan faktor risiko yang ditemukan.

Pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan tidak hanya bergantung pada pemeriksaan administratif, tetapi juga memerlukan ketelitian dalam melakukan observasi, komunikasi yang efektif, koordinasi lintas pihak, dan penentuan tindakan yang sesuai dengan tingkat risiko kesehatan.

Menghubungkan Teori dengan Praktik Epidemiologi

Kunjungan lapangan ke BBKK Tanjung Priok memperkaya pemahaman mahasiswa mengenai penerapan surveilans epidemiologi, kewaspadaan dini KLB, investigasi epidemiologi, dan kekarantinaan kesehatan dalam situasi operasional. Mahasiswa juga memperoleh gambaran mengenai tantangan pelaksanaan tugas di lapangan, termasuk perubahan kondisi cuaca, kebutuhan koordinasi, serta perbedaan bahasa dalam komunikasi di lingkungan pelabuhan.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan keterampilan observasi, analisis risiko, dan pemahaman terhadap mekanisme respons kesehatan di pintu masuk negara. Pengalaman tersebut juga menjadi bekal bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri sebagai calon epidemiolog dan tenaga kesehatan masyarakat yang berperan dalam upaya pencegahan serta pengendalian penyakit.

Article ad after last paragraph