Achmad Fauzan Penulis
Muklis Purwanto Editor
HARIANEXPRESS, JAKARTA — Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Kebayoran Lama sukses menggelar acara Pelatihan dan Pembinaan Kader bertempat di Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Al Karimiyah, Jalan Masjid Nurul Yakin, Cidodol, Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung khidmat mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai ini dihadiri lengkap oleh jajaran petinggi MWC NU Kebayoran Lama, antara lain Rois Syuriah KH. Rizqhi Akbar Manshur, Lc, MA, Katib KH. Ahmad Dahlan, Ketua Tanfidziyah KH. Masyhuri Husin, S.Ag, SM, M.Ag, serta Sekretaris Ustaz Anwar Sholeh, S.Sos.I.
Turut memadati lokasi acara seluruh jajaran Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) se-Kecamatan Kebayoran Lama, hingga perwakilan Badan Otonom (Banom) NU seperti Muslimat NU, Fatayat NU, Gerakan Pemuda (GP) Ansor, serta barisan Banser Kebayoran Lama yang siaga mengamankan dan menyemarakkan acara.
Pembukaan acara diawali dengan lantunan Tilawah Al-Qur’an, dilanjutkan dengan pembacaan Shalawat Badar yang menggema di lokasi acara. Semangat nasionalisme dan cinta tanah air turut digelorakan melalui nyanyian lagu kebangsaan Indonesia Raya yang bersambung dengan Mars Syubbanul Wathan (Hubbul Wathon) secara serentak oleh seluruh peserta.
Dalam sambutannya, Ketua Tanfidziyah MWC NU Kebayoran Lama, KH. Masyhuri Husin, memberikan pesan mendalam terkait esensi perjuangan Nahdlatul Ulama di tengah masyarakat.
“Di setiap gerak langkahnya, NU selalu membawa napas Islam Rahmatan lil ‘Alamin—Islam yang merangkul, bukan memukul; Islam yang menyejukkan, bukan memanaskan,” tegas KH. Masyhuri Husin.
Beliau juga memberikan arahan penting menjelang perhelatan akbar Muktamar NU ke-35 yang akan diselenggarakan di Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur. Seluruh kader di himbau untuk senantiasa menjaga ketenangan dan kondusivitas. Beliau mengingatkan bahwa NU bukan hanya sekadar jam’iyyah dengan jumlah jamaah yang besar, tetapi selalu memiliki peran strategis terhadap berbagai peristiwa besar di Indonesia. Oleh karena itu, kader NU wajib memegang teguh empat pilar utamanya, yakni Tasamuh (toleran), Tawazzun (seimbang), Tawasuth (moderat), dan I’tidal (tegak lurus/adil).

Dukungan terhadap pembinaan kader ini juga datang dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jakarta Selatan yang diwakili oleh Ust. Ahmad Faisal Al-Batawi. Beliau menekankan pentingnya NU untuk selalu menjadi jam’iyyah yang membawa manfaat nyata dan langsung bagi kemaslahatan umat.
Sementara itu, dari jajaran Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta, hadir Gus Mumtaz dan Ust. Junaidi Sahal sebagai pemateri utama. Gus Mumtaz menyoroti suasana jelang Muktamar dengan gaya penyampaian yang khas.
“Seharusnya dalam Muktamar itu yang dikedepankan adalah ger-gerannya (kegembiraan dan tawa persaudaraan), bukan gegeran (keributan atau perpecahan),” ucap Gus Mumtaz.

Melengkapi materi pembinaan, Ustadz Junaidi Sahal menegaskan bahwa manifestasi ajaran NU bukan hanya sekadar amaliyah individu seperti tahlil dan maulid, melainkan juga harus menjadi fikrah (cara berpikir) dan harakah (pergerakan) yang nyata dalam menjawab tantangan zaman.
Acara Pelatihan dan Pembinaan Kader ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ustadz Gustiri M.A.K, kemudian dilanjutkan dengan sesi ramah tamah bersama seluruh pengurus NU yang hadir.