Thursday, 03 September 2026
Hot

Lonjakan Harga Cabai Rawit Merah di Jakarta, Pemprov DKI Segera Intervensi

Harga cabai rawit merah di pasar tradisional Jakarta melonjak tajam, membuat Pemprov DKI Jakarta siap melakukan intervensi dengan operasi pasar dan pangan murah.

Article ad before first paragraph

Heri Purwadyo Penulis | Ipnu Subroto Editor

HARIANEXPRESS, JAKARTA – Harga cabai rawit merah mengalami lonjakan tajam di pasar tradisional DKI Jakarta, mendorong Pemerintah Provinsi siap melakukan intervensi seperti operasi pasar atau pangan murah, Kamis ( 3/9/2026 ).

Staf Khusus Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Publik, Chico Hakim, menyatakan Pemprov DKI Jakarta akan melakukan intervensi jika tekanan harga berlanjut. Intervensi ini termasuk operasi pasar atau penyediaan pangan murah untuk menjaga daya beli warga.

Chico juga memastikan stok bahan pokok di wilayah DKI Jakarta aman karena terus dipantau Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian. Lonjakan harga cabai rawit merah utamanya disebabkan berkurangnya pasokan dari sentra produksi di luar daerah seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah, bukan karena kebijakan Pemprov DKI.

Article ad in the middle of article

Menurut Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia, masa panen di sentra produksi telah berakhir, sehingga volume cabai yang masuk ke pasar induk berkurang. Musim kemarau juga memperparah kondisi, menyebabkan hasil panen lebih terbatas dan harga di tingkat petani sudah mencapai sekitar Rp 50.000 per kilogram.

Asosiasi memperkirakan tekanan harga masih akan terasa di awal September, namun diharapkan mereda saat panen berikutnya tiba. Kenaikan ini dikeluhkan pedagang di Pasar Lokbin Meruya, Kembangan, Jakarta Barat, karena berdampak pada daya beli masyarakat.

“Kalau sekarang modal dari sananya aja sudah Rp 70.000. Kita jual Rp 80.000 enggak ada untungnya, jadi jual Rp 85.000,” kata Ferdi, seorang pedagang sayur di Pasar Lokbin Meruya.

Ferdi menambahkan bahwa harga cabai sebelumnya sekitar Rp 60.000 per kilogram dan melonjak drastis dalam seminggu. “Ini sebelum Rp 85.000 masih Rp 60.000. Sekitar semingguan ada. Naiknya drastis,” tambahnya.

Ia mengaku tidak mengetahui pasti penyebab kenaikan harga. Namun, ia mendapat informasi dari pemasok bahwa persoalan transportasi dan cuaca turut memengaruhi harga. “Katanya di sana ada yang bilang masalah transportasi, cuaca. Kita mah enggak tahu. Kalau pedagang di sini enggak tahu,” tuturnya.

Kenaikan harga tersebut membuat sejumlah pembeli kaget. Pasalnya, dalam waktu singkat harga cabai rawit merah melonjak hingga Rp 25.000 per kilogram. “Pembeli di sini pada kaget. Dari Rp 60.000 kok langsung Rp 85.000? Jauh banget, Rp 25.000 naiknya,” kata Ferdi.

Akibatnya, konsumen mengurangi jumlah pembelian, bahkan ada yang hanya membeli sedikit. “Kadang-kadang dia beli sekilo, kadang-kadang ‘udah saya minta lima ribuan aja’. Kadang mau tak mau kita kasih, ada setengah ons,” ungkapnya.

Kondisi ini juga membuat stok cabai milik pedagang lebih lama habis. “Biasanya habis sehari-dua hari, ini mah enggak. Kadang tiga hari juga enggak habis,” ujarnya.

Pedagang lain, Marta, menjual cabai rawit merah dengan harga Rp 90.000 per kilogram. Hal ini karena harga dari pemasok di Pasar Induk sudah mencapai Rp 85.000. “Sekarang jual Rp 90.000. Dari sananya (Pasar Induk) Rp 85.000,” kata Marta.

Marta menyebut kenaikan harga dari pemasok menjadi Rp 85.000 terjadi sekitar dua hari terakhir. Kenaikan ini disebabkan pasokan cabai berkurang sehingga jumlah barang yang masuk ke pasar lebih sedikit. “Karena barangnya kurang, stoknya. Biasanya misalnya satu ton, cuma 500, ada kenaikan karena kekurangan barang,” tuturnya.

Selain cabai rawit merah, harga cabai keriting merah juga mengalami kenaikan, mencapai sekitar Rp 45.000 hingga Rp 50.000 per kilogram. Sementara itu, harga bawang merah dan bawang putih relatif stabil, dijual masing-masing Rp 40.000 dan Rp 50.000 per kilogram.

Article ad after last paragraph