Heri Purwadyo Penulis | Ipnu Subroto Editor
HARIANEXPRESS, JAKARTA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkomitmen memfasilitasi perpustakaan sebagai tempat anak-anak untuk berkarya dan menghasilkan buku sendiri, Jumat (11/9/2026).
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan pameran Karya Raya 2026 yang digelar di Perpustakaan Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Program ini berupaya memfasilitasi anak-anak agar tetap kreatif di tengah derasnya perkembangan teknologi digital.
“Perpustakaan tidak hanya menyediakan buku untuk dibaca, tetapi juga menyiapkan ruang untuk berkarya dan menghasilkan buku,” ujar Nasruddin Djoko Surjono, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta.
Pemerintah berharap penyediaan wadah fisik dan kegiatan menggambar ini dapat mengurangi intensitas anak dalam menggunakan gawai sehari-hari. Berdasarkan data, perkembangan program Karya Raya terus mengalami tren positif dari tahun ke tahun.
“Kami ingin menyediakan ruang anak-anak untuk berkarya, supaya aktivitas-aktivitas fisik, aktivitas untuk melakukan penggambaran dan sebagainya itu minimal mengurangi aktivitas mereka dengan gawai,” tutur Nasruddin Djoko Surjono, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta.
Pada tahun 2023 terdapat 638 buku yang terhimpun, lalu bertambah menjadi 1.081 buku pada tahun 2024, dan naik ke angka 1.870 buku pada tahun 2025. Sementara itu, jumlah karya pada pelaksanaan tahun ini tercatat menembus angka yang lebih tinggi.
“Dan tahun ini mencapai 2.053 buku karya anak,” ungkap Nasruddin Djoko Surjono.
Dalam kurun waktu empat tahun, inisiatif ini telah menggandeng sekitar 300 sekolah dan mengumpulkan lebih dari 5.000 buku. Atas capaian ini, pameran tersebut dianugerahi rekor Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai pameran buku karya anak terbanyak di Indonesia.
“Ketika anak diberi ruang untuk bertumbuh, sesungguhnya kita sedang menemukan masa depan Jakarta,” pungkas Nasruddin Djoko Surjono.
Ke depan, kegiatan literasi ini ditargetkan menyasar sekolah negeri, sekolah internasional, rumah susun, serta komunitas literasi di Jakarta agar lebih inklusif. Perpustakaan Jakarta diproyeksikan terus mengapresiasi dan memamerkan karya-karya tersebut.
“Perpustakaan Jakarta menjadi salah satu ruang untuk menyimpan, menampilkan, dan mengapresiasi karya tersebut sehingga dapat dibaca oleh masyarakat,” tutup Nasruddin Djoko Surjono.


