Heri Purwadyo Penulis | Ipnu Subroto Editor
HARIANEXPRESS, JAKARTA – Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Selatan mengajak masyarakat untuk menghilangkan stigma terhadap pasien tuberkulosis (TBC). Upaya ini penting untuk mendukung penemuan dan pengobatan penyakit tersebut, Kamis ( 3/9/2026).
Kepala Sudinkes Jakarta Selatan Debi Intan Suri menyatakan bahwa stigma dari masyarakat maupun pasien itu sendiri merupakan tantangan terbesar.
“Tantangan terbesar kami adalah stigma, baik stigma dari masyarakat maupun dari pasien itu sendiri, seperti ketakutan bahwa ketika seseorang terkena TBC, dia akan dijauhi,” ujar Debi.
Menurut Debi, upaya menghilangkan stigma perlu terus dilakukan melalui sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Peran tenaga kesehatan, pengurus RT/RW, dan kader kesehatan sangat krusial sebagai ujung tombak di lingkungan masyarakat.
Mereka bertugas memberikan pemahaman mengenai penularan dan pengobatan TBC agar pasien tidak merasa takut atau dikucilkan.
Debi menjelaskan bahwa pasien TBC yang telah minum obat secara teratur selama dua minggu sebenarnya sudah tidak lagi menularkan penyakit tersebut.
“Pasien yang positif TB dan sudah minum obat secara teratur selama dua minggu, sebenarnya sudah tidak menularkan lagi,” jelasnya.
Namun, pasien tetap wajib menyelesaikan pengobatan sekitar enam bulan untuk pemberantasan kuman TBC secara menyeluruh.
Selain pengobatan, masyarakat juga diimbau menerapkan langkah pencegahan seperti menggunakan masker dan tidak batuk sembarangan untuk meminimalkan risiko penularan. Sudinkes Jakarta Selatan terus berupaya menemukan dan mencegah TBC melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) TB dengan pemeriksaan dahak dan layanan mobile X-ray.
Pemerintah Kota Jakarta Selatan menargetkan sekitar 650 ribu warga menjalani CKG yang terintegrasi dengan skrining TBC sepanjang 2026, guna mendeteksi kasus TBC lebih dini agar intervensi dan pengobatan dapat segera dilakukan.

