Heri Purwadyo Penulis | Ipnu Subroto Editor
HARIANEXPRESS, JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo memastikan kenaikan harga pangan tidak mengganggu tingkat inflasi ibu kota, Senin (14/9/2026).
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menyatakan keyakinannya bahwa fluktuasi harga pangan di ibu kota tidak berdampak buruk pada tingkat inflasi daerah. Infrastruktur yang telah berjalan dengan baik di Jakarta menjadi salah satu faktor utama yang menjaga stabilitas ekonomi wilayah tersebut.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta senantiasa memantau perkembangan harga komoditas pangan setiap harinya secara berkala. Ketersediaan serta permintaan kebutuhan pokok di berbagai pasar terpantau cukup terkendali berkat ketersediaan stok pangan utama seperti daging, beras, dan cabai.
“Untuk harga pangan, di DKI terutama karena kami infrastrukturnya sudah berjalan dengan baik, memang betul ada kenaikan sedikit, tetapi saya yakin tidak akan mengganggu inflasi yang ada,” ujar Pramono Anung Wibowo, Gubernur DKI Jakarta.
Harga cabai yang sempat mengalami kenaikan dilaporkan kini sudah berangsur normal kembali. Pemerintah menilai kondisi permintaan komoditas tersebut belum menghadapi momentum hari besar keagamaan.
“Memang apalagi kebutuhan cabai sekarang ini kan tidak menghadapi hari-hari besar yang membutuhkan cabai dalam jumlah besar. Mudah-mudahan ini bisa tertangani dengan baik,” ujar Pramono Anung Wibowo.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Hasudungan Sidabalok menjelaskan bahwa kenaikan harga cabai dipengaruhi oleh penurunan luas tanam cabai rawit merah periode Februari hingga Juli 2026 sebesar 14 persen. Faktor tersebut berdampak langsung pada penurunan tingkat produksi sepanjang periode Agustus sampai Desember 2026.
Kendala teknis dan alam turut memperparah situasi termasuk puncak musim kemarau yang membuat tanaman kekurangan pasokan air. Kondisi tersebut memicu hambatan pertumbuhan tanaman, kerontokan bunga, serta perkembangan buah yang tidak optimal.
Serangan organisme pengganggu tanaman seperti kutu kebul, thrips, tungau, dan ulat juga ikut meningkatkan kerusakan pada periode tersebut. Peningkatan biaya operasional produksi serta distribusi pangan turut dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar minyak.
“Di sisi lain, kenaikan harga bahan bakar minyak turut memicu peningkatan biaya operasional produksi dan distribusi pangan,” ujar Hasudungan Sidabalok, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian.
Catatan statistik menunjukkan wilayah Jakarta mengalami inflasi sebesar 0,15 persen pada Agustus 2026. Sementara itu, tingkat inflasi tahunan Jakarta pada periode Agustus 2026 tercatat mencapai angka 2,71 persen.
Sumber:
- https://www.antaranews.com/berita/5739505/pramono-yakini-kenaikan-harga-pangan-tak-ganggu-inflasi-jakarta?utm_source=antaranews&utm_medium=desktop&utm_campaign=popular_right








