Heri Purwadyo Penulis | Ipnu Subroto Editor
HARIANEXPRESS, JAKARTA – Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan menargetkan angka kelangsungan hidup penderita kanker anak mencapai 60 persen pada tahun 2030 melalui penguatan deteksi dini, Kamis (24/9/2026).
Langkah strategis ini diimplementasikan melalui sosialisasi pengenalan gejala kanker sejak dini kepada para kader Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di wilayah Jakarta Selatan. Keterlibatan kader PKK dinilai sangat krusial karena posisi mereka yang dekat dengan lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar.
Pemerintah setempat juga mengintegrasikan upaya ini dengan program Cek Kesehatan Gratis agar penanganan medis dapat segera dilakukan. Selain itu, kolaborasi erat dibangun bersama Yayasan Anyo Indonesia sebagai wadah pendampingan bagi anak yang terdeteksi mengidap kanker.
“Tentu, target kita bahwa targetnya 2030, 60 persen penderita kanker anak itu bisa terus bertahan hidup sampai dengan 60 persen. Kita harapkan dengan kepedulian kita semuanya, ini bisa dicapai secara baik,” ujar Syafrin Liputo, Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan.
“Dan kemudian juga diintegrasikan dengan program pemerintah Cek Kesehatan Gratis, sehingga anak-anak bisa diidentifikasi lebih awal dan dapat ditindaklanjuti sesuai dengan kebutuhan dan ilmu medis yang ada,” kata Syafrin Liputo.
“Tentu, ini menjadi salah satu saluran apabila di Jakarta Selatan terdapat anak-anak yang kemudian terdeteksi menderita penyakit kanker, bisa melalui Yayasan Anyo Indonesia ini,” ungkap Syafrin Liputo.
Target global yang diinisiasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui Global Initiative for Childhood Cancer juga menetapkan angka kelangsungan hidup penderita kanker anak minimal 60 persen pada 2030. Sementara itu, Indonesia sendiri mematok target ketahanan hidup sekitar 50 persen atau sekitar 25 persen pada tahun yang sama.










